Search
Search

Pesut Mahakam di Ujung Tanduk

Text : Yohana Belinda
Foto : Muhammad Zaenuddin
Jumat, 5 Juni 2026

Jauh di pedalaman Sungai Mahakam, lumba-lumba air tawar terancam punah. Mereka hanya tersisa 60 ekor dan para ilmuwan telah memperingatkan bahwa kehilangan mereka berarti kehilangan sungai itu sendiri.

Kenyataan ini telah menjadi sorotan pada tahun 2025, ketika Upin, seekor lumba-lumba air tawar (yang secara lokal disebut pesut atau lumba-lumba Irrawady), ditemukan mati dengan tubuh terkontaminasi logam berat dan mikroplastik. Upin baru berusia sedikit di atas tiga tahun; hidupnya terputus oleh perairan yang seharusnya menjadi sumber kehidupannya.

Upin bukanlah yang pertama meninggal dengan cara seperti ini. Kehilangannya merupakan tragedi terbaru yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap sungai tersebut. Para nelayan masih mengingat masa ketika manusia dan satwa liar hidup berdampingan di surga. Suku Kutai selalu meyakini bahwa pesut adalah jiwa manusia dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat.

Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) terpantau berenang di Desa Wisata Pela, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Senin (6/4/2026).

Ikan lokal Puyau dan Gandia dulunya mudah ditangkap. Sekarang jumlah mereka dan musim kemunculannya begitu sulit diprediksi sehingga spesies ini muncul dan menghilang tanpa peringatan. Penurunan ini bukanlah kebetulan––hal ini diakibatkan oleh tekanan yang semakin meningkat terhadap sungai, baik dari aktivitas manusia maupun ancaman lingkungan.

“Laporan toksikologi memastikan bahwa Upin meninggal karena keracunan, kemungkinan dari senyawa yang mengandung sianida atau klorida kalium. Kadar kalium yang sangat tinggi merusak hatinya secara parah hingga jantungnya berhenti berdetak,” kata Danielle Kreb, pimpinan program ilmiah di Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia).

Kreb dan suaminya, Budiono, selama lebih dari dua dekade telah berupaya melindungi pesut Sungai Mahakam yang tersisa melalui penelitian, keterlibatan masyarakat, dan konservasi langsung. Dedikasinya terhadap pesut dimulai pada tahun 1997, ketika pertemuan langsung dengan spesies tersebut memicu ketertarikan seumur hidup. “Saya mengenal mereka satu per satu,” katanya, mencerminkan ikatan yang terjalin selama bertahun-tahun di atas air, mengamati setiap pesut hingga mereka menjadi lebih dari sekadar hewan baginya. 

Para nelayan dari Kutai Barat hingga Kutai Kartanegara mencatat bahwa penampakan pesut semakin jarang, padahal tongkang-tongkang pengangkut batu bara dan hasil perkebunan kini memadati sungai seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Samsuri, seorang warga Kecamatan Penyinggahan di Kutai Barat, mengeluhkan bahwa laporan kematian pesut terus bermunculan, namun tidak ada tindakan nyata yang diambil. “Kami sering mendengar berita semacam itu, tapi tidak ada yang dilakukan,” kata laki-laki berusia 70 tahun itu, menjelaskan bagaimana perubahan ini telah memengaruhi penduduk desa.

Danielle Kreb, peneliti dan pendiri Yayasan RASI, berpose di sebuah penginapan di Muara Pahu, Kutai Barat. Ia mengungkapkan bahwa dahulu pesut Mahakam kerap ditemukan hingga hilir Sungai Mahakam, termasuk Samarinda. Sejak 1990-an mereka semakin jarang terlihat akibat tekanan aktivitas manusia dan berbagai kegiatan industri di aliran sungai. Hal ini berdampak pada menurunnya ketersediaan sumber makanan mereka.
Tim RASI melakukan pemantauan pesut Mahakam di wilayah Muara Kaman, Kutai Kartanegara, April 2026, guna mengetahui sebaran populasi spesies langka tersebut.

Muhammad Yusuf, seorang nelayan dari Muara Pahu di Kutai Barat, mengatakan hasil tangkapannya terus berkurang selama bertahun-tahun, dalam krisis yang diam-diam merefleksikan hilangnya pesut. Laki-laki berusia 50 tahun itu menyalahkan meningkatnya aktivitas industri di sepanjang Sungai Mahakam. Muara Pahu dulunya merupakan kawasan konservasi. Sejak 2010, pesut secara bertahap meninggalkannya. Perkebunan kelapa sawit didirikan di sepanjang Sungai Kedang Pahu, yang menyebabkan penurunan stok ikan. “Ini dimulai saat perusahaan kelapa sawit dan batu bara datang. Kapal tongkang terus berlalu-lalang, dan ikan menjadi semakin sulit ditangkap,” tambahnya.

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) terpantau berenang di Desa Wisata Pela, Kutai Kartanegara, April 2026.
M Yusuf (50), nelayan Gunung Bayan, Muara Pahu, Kutai Barat, menggendong anaknya, Sakila Zahrah (3). Menurutnya, sejak banyak perusahaan sawit dan tambang batu bara masuk, lalu lintas tongkang di sungai semakin ramai sehingga semakin sulit baginya untuk mendapatkan ikan. Kadang, uangnya habis untuk membeli bensin, dan pulang tanpa tangkapan ikan. Dulu, bagi warga yang hidup dari Sungai Mahakam, Muara Pahu adalah “surga ikan”. Sekarang tidak lagi.

Pesut Sungai Mahakam adalah spesies yang terancam punah. Data resmi tahun 2025 dari RASI memperkirakan mereka hanya tersisa 60 ekor. Penurunan populasi yang drastis ini disebabkan oleh terjeratnya pesut dalam alat tangkap ikan, tabrakan fatal dengan tongkang, dan racun yang digunakan untuk menangkap ikan. Ancaman lainnya termasuk polusi dan limpasan bahan kimia yang mencemari sungai.

Tangisan pesut atas penambangan batu bara

Meskipun angka kematian akibat tangkapan sampingan telah turun sebesar 88% dari tahun 2020 hingga 2025, pengangkutan batu bara kini menjadi ancaman yang semakin meningkat, yang telah merenggut nyawa beberapa pesut, baik yang telah dikonfirmasi maupun yang belum. Kreb menjelaskan bahwa beberapa ancaman yang saling beririsan kini mengancam kelangsungan hidup pesut di Sungai Mahakam.

Pertama, kebisingan yang tak henti-hentinya dari tongkang batu bara membuat pesut kebingungan. Dalam jarak 300 meter, gangguan ini berlangsung selama lima menit, sehingga menghalangi mereka untuk mencari makan atau berkomunikasi. Kebisingan rata-rata mencapai 117 dB, dengan puncak 150 dB, jauh di atas 80 dB yang mengganggu sonar mereka.

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) terpantau berenang dekat kapal tongkang bermuatan batubara di Desa Sangkuliman, Kutai Kartanegara, April 2026.

Kedua, sampel air tahun 2025 menunjukkan logam berat seperti kadmium, tembaga, besi, dan mangan sering kali melebihi standar nasional. Limbah pupuk berbahaya, seperti amonium nitrat, ditemukan pada lebih dari 64% sampel, mengancam ikan dan ekosistem. Sedimentasi melebihi standar air nasional pada 19% sampel pada tahun 2025, menggambarkan penurunan kualitas air.

Tim Rare Aquatic Species of Indonesia (Yayasan RASI) melakukan kegiatan survei dengan mengambil sampel air Sungai Mahakam untuk menilai kualitasnya di wilayah Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, April 2026.

Ketiga, sumber makanan menipis akibat penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan dan hilangnya habitat, yang memusnahkan populasi ikan. Patroli rutin dan penegakan hukum masih kurang dilakukan.

Nelayan di Muara Muntai Ulu beradaptasi dengan lingkungan sungai dengan menukar alat tangkap tradisional dari rengge ke bubu, demi hasil tangkapan yang lebih selektif dan berkelanjutan.

Keempat, sedimentasi yang parah membuat ikan sesak napas karena insang mereka tersumbat dan telur ikan mati sebelum menetas, yang turut menyebabkan penurunan populasi ikan. “Masalah utamanya adalah lalu lintas kapal yang tak henti-hentinya. Kebisingan saja sudah menghancurkan pesut, tetapi kerusakannya lebih dari itu. Vegetasi di sepanjang tepi sungai ditebang untuk penyimpanan batu bara, menghilangkan zona penyangga pelindung seluas 100 meter yang dibutuhkan sungai,” katanya, berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun. Dampaknya terlihat jelas selama survei lapangan. Para peneliti mengamati pesut muncul ke permukaan satu per satu, kepala tumpul mereka muncul diam-diam dari sungai.

Kapal-kapal tongkang pengangkut batubara antre bersandar di Sungai Mahakam, Dusun Muara Pahu, Kutai Barat, Kalimantan Timur, April 2026.

“Hutan tepi sungai diperlukan untuk menyediakan mikrohabitat bagi ikan, tempat ikan dapat bertelur di akar-akar yang terendam air, memakan buah, biji, dan daun dari pohon-pohon, serta memberikan naungan yang juga merangsang pertumbuhan ikan.”

Selama survei, ada sesuatu yang sakral tentang pesut, sebuah rasa bahwa mereka tidak boleh disakiti oleh manusia.

Kreb mengakui adanya perubahan positif, dengan mencatat bahwa pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup, kini semakin sadar bahwa pesut Mahakam terancam punah secara kritis dan telah mengakui kelahiran beberapa anak pesut baru yang menggembirakan. “Populasinya telah sedikit meningkat, berkat kelahiran yang lebih banyak tahun lalu melebihi angka kematian. Catatan kami mengonfirmasi delapan anak pesut baru,” lanjutnya. Tangkapan sampingan telah menurun sejak pertengahan 2021, setelah diperkenalkannya alat pengusir akustik yang mencegah pesut mendekati jaring. Kini, 252 alat pengusir digunakan oleh 158 nelayan, sehingga tidak ada insiden tangkapan sampingan di jaring yang mereka gunakan.

Sungai tidak membedakan apa pun karena apa yang meracuni pesut juga meracuni air, dan apa yang membungkam sonar mereka membunuh ikan. Ketika ikan menghilang, seluruh keluarga nelayan di Mahakam menarik jaring kosong, mata pencaharian mereka tenggelam dalam arus sama yang pernah memberi mereka makan.

Tim RASI mensurvei dan mencatat data kualitas air Sungai Mahakam di wilayah Muara Kaman, Kutai Kartanegara, April 2026.
Seorang nelayan memperlihatkan udang hasil tangkapannya usai menjala di perairan Desa Pela, Kutai Kartanegara.

Dari sungai ke manusia

Jaring insang berlubang besar melambangkan kenyataan yang tak menyenangkan: alat yang diandalkan para nelayan juga membunuh pesut. Jaring berlubang kecil pun tidak lebih aman. Ketika pesut mencuri ikan dari jaring ini, mereka sering menelan potongan-potongan jaring, yang menumpuk di perut mereka dan merusak kesehatan mereka. Pada tahun 2025, 121 jaring insang berlubang besar (totalnya 2.438 meter) yang memiliki risiko tertinggi menyebabkan pesut terjerat telah diganti, sehingga menguntungkan 48 nelayan dan secara substansial menurunkan risiko pesut terjerat.

Seorang warga Desa Pela membersihkan ikan yang baru ia beli
Seorang nelayan menangkap ikan di malam hari di perairan Desa Pela, Kutai Kartanegara.

Program ini akan berjalan setidaknya selama tiga tahun dan bertujuan mengganti 10,000 meter jaring berlubang besar dengan perangkap ikan atau metode ramah pesut lainnya. Namun, jika pesut tetap terancam, para peneliti memperingatkan bahwa hilangnya mereka tidak hanya menandakan kepunahan seekor mamalia, tetapi juga kegagalan Sungai Mahakam sebagai sistem penopang kehidupan.

Fiorentina Refani, Direktur Studi Sosio-Bioekonomi di lembaga penelitian independen CELIOS, menjelaskan bahwa lalu lintas sungai yang padat menghalangi sinar matahari, membatasi fotosintesis pada fitoplankton dan tumbuhan air, serta melemahkan seluruh rantai makanan perairan. “Konsekuensinya, kelangsungan hidup pesut merupakan barometer langsung bagi kesehatan sungai secara keseluruhan dan tingkat polusi,” Kreb menutup dengan nada optimis yang berhati-hati. 

Foto udara aktivitas beberapa kapal tongkang bermuatan batu bara yang melintas di perairan Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, di April 2026. Lalu lintas kapal tongkang terpantau padat, mengangkut batu bara dari wilayah hulu.
Warga Desa Pela, Kutai Kartanegara melakukan aktivitas jual beli sayur segar.
Rombongan pelajar dari Desa Pela dan Desa Sangkuliman menyeberangi Sungai Mahakam menuju Kota Bangun.

Kementerian Lingkungan HIdup kini menjadi mitra yang lebih berkomitmen dengan meluncurkan rencana aksi cepat untuk meningkatkan populasi pesut. Kementerian Kelautan dan Perikanan juga turut bergabung dengan mengintegrasikan upayanya ke dalam Rencana Aksi Nasional untuk pesut Sungai Mahakam.

Alimin Azarbaijan (47), Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh Beumbai Bebudaya (B3). Ia merupakan tokoh penggerak wisata dan konservasi dari Desa Pela, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bersama kepala desa dan para pemuda setempat, ia aktif melestarikan pesut Mahakam dan mengembangkan Desa Pela sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan (ekowisata).
Samsuri (70), pemilik warung makan di pesisir Sungai Mahakam, Penyinggahan, Kutai Barat, berpose di rumahnya. Ia menceritakan laporan nelayan setempat di awal tahun mengenai kematian pesut, diduga akibat tertabrak kapal tongkang. Warga juga mengeluhkan padatnya lalu lintas tongkang di sungai tersebut. “Kadang seperti tidak ada ruang untuk kami,” ujar Samsuri.

[Kantor Berita] Antara melaporkan bahwa Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq akan memperkuat pemantauan kualitas air dan izin pertambangan batu bara, yang keduanya berdampak langsung terhadap ekosistem sungai.

Pelangi muncul setelah hujan mengguyur Desa Sangkumian, Kotabangun, Kutai Kartanegara, April 2026.

Kementerian telah menetapkan tiga desa di Kalimantan Timur sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam. Muhuran dan Pela di Kabupaten Kota Bangun, serta Sabintulung di Kabupaten Muara Kaman. “Pelestarian habitatnya harus menjadi upaya bersama yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat setempat,” kata kementerian tersebut pada 8 Februari.

 

Penyunting Naskah Bahasa Inggris: Michael Hegarty

Penerjemah Bahasa Indonesia: Astrid Reza

Kami menerima kontribusi foto cerita untuk ditayangkan di situs ini. Tema yang diusung adalah seputar dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan, ketahanan dan adaptasi masyarakat serta inovasi-inovasi yang dilakukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Silakan kirimkan tautan berisi foto resolusi rendah, teks, dan profil singkat ke [email protected]. Kami akan segera memberi tanggapan kepada Anda. Terima kasih.

Kisah Terkait